Pada akhirnya Dia tahu. Temannya itu tidak
sebaik yang dikira. Temannya itu tidak pernah mengatakan sebuah fakta. Memang
tidak seratus persen berbohong. Sedikit kurang ada delapan puluh persen.
Temannya hanya dimarahi orang tuanya saja, tapi bilangnya dengan pukulan.
Temannya hanya tahu dari pembicaraan orang lain, tapi bilangnya diberi tahu
langsung. Temannya hanya dilirik saja oleh pria asing, bilangnya dengan
senyuman.
Semua orang tahu mereka berteman baik. Tapi
tak seorangpun tahu kini Dia mulai tidak percaya dengan temannya. Bahkan
temannya juga tak tahu -jika Dia mulai tidak percaya padanya-. Temannya tetap berdongeng pada Dia seakan Dia sebodoh itu. Tapi Dia
hanya tertawa dalam hati sambil mengkroscek bagian mana yang adalah dongeng
dan bagian mana yang adalah fakta. Nada bicara rendah. Mata tidak fokus. Dan
mulai berganti topik ketika Dia mencoba menjebak dengan pertanyaan. Yap. Itulah
bagian dongengnya. Dia mulai resah karena temannya ini berperilaku demikian
tidak hanya pada Dia. Pada semua orang. Mencari perhatian semua orang.
“Apa tindakanmu selanjutnya?” ucapku pada
Dia. Dia hanya terdiam dan berfikir. Bagaimana caranya memberi tahu semua orang
untuk tidak percaya 100℅ pada temannya itu. Apakah hanya Dia yang menyadari ini selama
ini. Terkesan jahatkah jika Dia berkata begitu. Temannya memang pandai berdongeng.
Membuat cerita hidupnya semenarik angannya. Sebagai teman baik yang dikenal
semua orang, apakah Dia diam saja?
“Apakah diam dan berpura pura percaya
menjadi solusi terbaik?” ucap ku pada Dia. Lagi-lagi Dia hanya terdiam. Dan
akupun pergi bersama Dia, bayangan yang ada di cermin tepat di depanku itu.
